Teori – Teori Sosial di Indonesia dan Perkembangannya : Pemikiran Kuntowijoyo dan Selo Sumardjan
Teori – Teori Sosial di Indonesia dan Perkembangannya :Pemikiran Kuntowijoyo dan Selo Sumardjan
Perkembangan ilmu sosial di Indonesia dimulai dari ketidakpercayaan ilmuwan, akademisi terhadap pemikiran asli yang bersumber dari masyarakat. Ketidakpercayaan ini menjadi penyakit yang membayangi ilmuwan, karena tanpa sadar memaksa peneliti untuk menggunakan, menduplikasi teori-teori Barat yang dianggap sebagai pusatnya ilmu.
Ilmu sosial tidak berkembang di dunia Timur terutama di Indonesia juga dipengaruhi oleh psikologis dan perilaku dari kalangan ilmuwan dan akademisi yang tidak fokus pada pengembangan keilmuan. Kebanyakan ilmuwan merasa menjadi "pemilik" telah memberikan banyak kenikmatan dalam bentuk teori-teori yang sudah ada. Hanya saja para "pemilik" tidak pernah terjun langsung di masyarakat untuk melihat sejauh mana teori-teori yang diambil dari ilmuwan Eropa cocok ketika diterapkan untuk membaca permasalah yang ada di Indonesia. Banyak ilmuwan di Indonesia ketika sudah menikmati jabatan struktural menjadi lupa kepada kewajiban untuk mengembangkan dan mencetak pengetahuan baru yang berbasis pada kehidupan nyata masyarakat.
Hegemoni Teori Sosial
Ilmu-ilmu
sosial yang berkembang dan dipelajari di lembaga pendidikan
(kampus) di Indonesia, termasuk juga negara-negara Dunia Ketiga
merupakan ilmu sosial yang dihasilkan oleh sarjana Barat. Ketergantungan terhadap teori Barat sebenarnya tidak
menjadi keutamaan dari perkembangan ilmuwan di Indonesia. Hegemoni teori sosial Barat ternyata kurang cocok dengan
realitas masalah sosial di Asia. Dalam
sosiologi, jika akan mengetahui tentang kapitalisme maka
acuannya adalah teori yang dikemukakan Karl Marx, jika tentang legitimasi dan birokrasi, maka acuannya Max Weber
sedangkan jika berbicara gender pasti yang dilihat adalah teori feminis.
Penggunaan teori-teori tersebut dikarenakan teori memungkinkan
dan membantu pemahaman yang lebih baik terhadap segala sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan pemahaman menyeluruh.
Teori Sosial Menurut Selo Sumardjan
Sumber : tokoh.id
Selo Sumardjan dikenal dikalangan akademik dan masyarakat di Indonesia sebagai bapak Sosiologi, ilmu yang digelutinya sejak beliau menempuh pendidikan tingginya untuk memperoleh gelar doktor. Nama Selo Soemardjan selalu melekat dengan sosiologi. Ilmu itu sebenarnya baru benar-benar ditekuni pada saat usianya sudah di atas empat puluh tahun, yaitu ketika ia pada tahun 1956 memperoleh kesempatan menuntut ilmu di Cornell University, Amerika Serikat.
Pemikiran utama dari Selo Sumardjan bersumber dari karya beliau yang dibukukan dengan judul “Perubahan Sosial di Yogyakarta”. Buku ini mengkaji dan menjelaskan perubahan sosial masyarakat Jawa di Yogyakarta. Perubahan sosial yang dikupas di buku ini tidak melihat pada proses perubahan masyarakat yang diakibatkan oleh berbagai proses perkembangan biologis, seperti pertumbuhan penduduk dan pergantian generasi. Perubahan sosial yang digagas Selo Sumardjan justru berfokus pada perubahan di dalam lembaga-lembaga masyarakat yang mempengaruhi sistem sosial, yang di dalamnya termasuk nilai, norma, sikap dan tingkah laku. Selo Sumardjan memusatkan studinya tentang perubahan sosial di lembaga-lembaga politik yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Perubahan sosial pemikiran dari Selo Sumardjan merupakan bagian dari ilmu sosiologi yang mencoba memadukan dinamika sosial masyarakat. Perubahan sosial dalam konsep pemikiran Selo Sumardjan adalah perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai-nilai sosial, sikap dan pola tingkah laku antar kelompok dalam masyarakat. Perubahan sosial disini berasal dari perubahan-perubahan ideology politik dalam masyarakat Jawa terutama di Yogyakarta. Untuk mendalami proses perubahan sosial perlu mengetahui siapa pelopor perubahan (agent of change). Pelopor perubahan adalah seseorang atau sekelompok orang yang dipercayai oleh masyarakat sebagai pemimpin dalam salah satu atau beberapa lembaga sosial. Kelompok ini berkontribusi untuk menetapkan kaidah sistem sosial baru atau yang diperbarui.
Teori Sosial Menurut Pemikiran Kuntowijoyo
Kuntowijoyo adalah salah seorang cendekiawan yang dalam banyak hal pemikirannya perlu dijadikan rujukan. Dalam bidang ke-Islaman, Kuntowijoyo juga layak disebut cendekiawan muslim. Sangat tampak bahwa ketika Kuntowijoyo menterjemahkan Islam sangat mudah dipahami dan menjadi enak untuk diikuti. Islam di tangan Kuntowijoyo menjadi Islam yang ramah, yang cocok untuk kultur Indonesia, dan Islam yang benarbenar rahmatan lil ’alamin.
Dikutip dalam buku yang berjudul "SERI TEORI-TEORI SOSIAL INDONESIA" Karya Nasiwan, dkk. Bahwa Kuntowijoyo mengatakan, “dengan berpikir objektif dan melihat realitas yang ada, kini saatnya Islam dipahami sebagai ilmu, bukan sebagai mitos atau ideologi. Ketika Islam dijadikan ilmu, usaha terpokok adalah memobilisasi kesadaran masyarakat. Kuncinya bukan lagi Negara, tetapi sistem. Dulu ada upaya mencapai Negara yang ideal, sekarang beralih menjadi upaya mencapai sistem yang rasional. Di situ negara hanya merupakan satu aspek dari sistem. Perjuangan pun tidak hanya tergantung pada perlemen, namun bisa lebih luas. Berpikir Islam sebagai Ilmu, maka menjadi formulasi y ang teoretis. Ia selanjutnya berkembang menjadi disiplin ilmu dan memiliki program aplikasi, misalnya ilmu sosial Islam.” (Kuntowijoyo, 1984: 59).
Keilmuan Kuntowijoyo didasarkan pada
pandangan terhadap Al Qur’an. sejarah menurut Kuntowijoyo memang tidak
mengutamakan elemen spiritual dan moral, melainkan sebagai sebuah kekuatan perubahan sosial yang
didasarkan pada misi humanisasi, liberalisasi, dan transendensi bagi
terciptanya masyarakat yang lebih baik dan membangun peradaban.
Berdasarkan hal itu, sistem pengetahuan berhubungan dengan iman yang bersumber
pada tauhid untuk menghasilkan metodologi. Tiga kesatuan tauhid
yaitu pengetahuan, kehidupan, dan sejarah, akhirnya membentuk
satu kebenaran sejarah, tidak adanya perbedaan antara sejarah yang
bersyarat nilai dan bebas nilai, pada dasarnya sejarah bermanfaat baik
bagi umat maupun manusia secara umum.
Kesimpulan
Pemikiran-pemikiran dari para tokoh lokal tidak serta merta mendorong kemunculan ilmu-ilmu sosial lokal. Perlu gerakan
secara menyeluruh termasuk juga kebijakan dari pemerintah yang
mendorong terus lahirnya teori-teori yang berorientasi pada arah lokal. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan
mendorong diskusi ilmu sosial lokal dalam arah akademik baik keterampilan inti yang diperlukan untuk melakukan tugas apa pun mulai dari yang paling sederhana sampai paling rumit. di perguruan tinggi dengan mengajak mahasiswa berdiskusi,
meneliti kajian lokal untuk melahirkan solusi bagi realitas
sosial masyarakat.
Perkembangan ilmu sosial di Indonesia dimulai dari ketidakpercayaan ilmuwan, akademisi terhadap pemikiran asli yang bersumber dari masyarakat. Ketidakpercayaan ini menjadi penyakit yang membayangi ilmuwan, karena tanpa sadar memaksa peneliti untuk menggunakan, menduplikasi teori-teori Barat yang dianggap sebagai pusatnya ilmu.
Ilmu sosial tidak berkembang di dunia Timur terutama di Indonesia juga dipengaruhi oleh psikologis dan perilaku dari kalangan ilmuwan dan akademisi yang tidak fokus pada pengembangan keilmuan. Kebanyakan ilmuwan merasa menjadi "pemilik" telah memberikan banyak kenikmatan dalam bentuk teori-teori yang sudah ada. Hanya saja para "pemilik" tidak pernah terjun langsung di masyarakat untuk melihat sejauh mana teori-teori yang diambil dari ilmuwan Eropa cocok ketika diterapkan untuk membaca permasalah yang ada di Indonesia. Banyak ilmuwan di Indonesia ketika sudah menikmati jabatan struktural menjadi lupa kepada kewajiban untuk mengembangkan dan mencetak pengetahuan baru yang berbasis pada kehidupan nyata masyarakat.
Hegemoni Teori Sosial
Ilmu-ilmu sosial yang berkembang dan dipelajari di lembaga pendidikan (kampus) di Indonesia, termasuk juga negara-negara Dunia Ketiga merupakan ilmu sosial yang dihasilkan oleh sarjana Barat. Ketergantungan terhadap teori Barat sebenarnya tidak menjadi keutamaan dari perkembangan ilmuwan di Indonesia. Hegemoni teori sosial Barat ternyata kurang cocok dengan realitas masalah sosial di Asia. Dalam sosiologi, jika akan mengetahui tentang kapitalisme maka acuannya adalah teori yang dikemukakan Karl Marx, jika tentang legitimasi dan birokrasi, maka acuannya Max Weber sedangkan jika berbicara gender pasti yang dilihat adalah teori feminis. Penggunaan teori-teori tersebut dikarenakan teori memungkinkan dan membantu pemahaman yang lebih baik terhadap segala sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan pemahaman menyeluruh.
Teori Sosial Menurut Selo Sumardjan
Pemikiran utama dari Selo Sumardjan bersumber dari karya beliau yang dibukukan dengan judul “Perubahan Sosial di Yogyakarta”. Buku ini mengkaji dan menjelaskan perubahan sosial masyarakat Jawa di Yogyakarta. Perubahan sosial yang dikupas di buku ini tidak melihat pada proses perubahan masyarakat yang diakibatkan oleh berbagai proses perkembangan biologis, seperti pertumbuhan penduduk dan pergantian generasi. Perubahan sosial yang digagas Selo Sumardjan justru berfokus pada perubahan di dalam lembaga-lembaga masyarakat yang mempengaruhi sistem sosial, yang di dalamnya termasuk nilai, norma, sikap dan tingkah laku. Selo Sumardjan memusatkan studinya tentang perubahan sosial di lembaga-lembaga politik yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Perubahan sosial pemikiran dari Selo Sumardjan merupakan bagian dari ilmu sosiologi yang mencoba memadukan dinamika sosial masyarakat. Perubahan sosial dalam konsep pemikiran Selo Sumardjan adalah perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai-nilai sosial, sikap dan pola tingkah laku antar kelompok dalam masyarakat. Perubahan sosial disini berasal dari perubahan-perubahan ideology politik dalam masyarakat Jawa terutama di Yogyakarta. Untuk mendalami proses perubahan sosial perlu mengetahui siapa pelopor perubahan (agent of change). Pelopor perubahan adalah seseorang atau sekelompok orang yang dipercayai oleh masyarakat sebagai pemimpin dalam salah satu atau beberapa lembaga sosial. Kelompok ini berkontribusi untuk menetapkan kaidah sistem sosial baru atau yang diperbarui.
Teori Sosial Menurut Pemikiran Kuntowijoyo
Kuntowijoyo adalah salah seorang cendekiawan yang dalam banyak hal pemikirannya perlu dijadikan rujukan. Dalam bidang ke-Islaman, Kuntowijoyo juga layak disebut cendekiawan muslim. Sangat tampak bahwa ketika Kuntowijoyo menterjemahkan Islam sangat mudah dipahami dan menjadi enak untuk diikuti. Islam di tangan Kuntowijoyo menjadi Islam yang ramah, yang cocok untuk kultur Indonesia, dan Islam yang benarbenar rahmatan lil ’alamin.
Dikutip dalam buku yang berjudul "SERI TEORI-TEORI SOSIAL INDONESIA" Karya Nasiwan, dkk. Bahwa Kuntowijoyo mengatakan, “dengan berpikir objektif dan melihat realitas yang ada, kini saatnya Islam dipahami sebagai ilmu, bukan sebagai mitos atau ideologi. Ketika Islam dijadikan ilmu, usaha terpokok adalah memobilisasi kesadaran masyarakat. Kuncinya bukan lagi Negara, tetapi sistem. Dulu ada upaya mencapai Negara yang ideal, sekarang beralih menjadi upaya mencapai sistem yang rasional. Di situ negara hanya merupakan satu aspek dari sistem. Perjuangan pun tidak hanya tergantung pada perlemen, namun bisa lebih luas. Berpikir Islam sebagai Ilmu, maka menjadi formulasi y ang teoretis. Ia selanjutnya berkembang menjadi disiplin ilmu dan memiliki program aplikasi, misalnya ilmu sosial Islam.” (Kuntowijoyo, 1984: 59).
Keilmuan Kuntowijoyo didasarkan pada pandangan terhadap Al Qur’an. sejarah menurut Kuntowijoyo memang tidak mengutamakan elemen spiritual dan moral, melainkan sebagai sebuah kekuatan perubahan sosial yang didasarkan pada misi humanisasi, liberalisasi, dan transendensi bagi terciptanya masyarakat yang lebih baik dan membangun peradaban. Berdasarkan hal itu, sistem pengetahuan berhubungan dengan iman yang bersumber pada tauhid untuk menghasilkan metodologi. Tiga kesatuan tauhid yaitu pengetahuan, kehidupan, dan sejarah, akhirnya membentuk satu kebenaran sejarah, tidak adanya perbedaan antara sejarah yang bersyarat nilai dan bebas nilai, pada dasarnya sejarah bermanfaat baik bagi umat maupun manusia secara umum.
Kesimpulan
Pemikiran-pemikiran dari para tokoh lokal tidak serta merta mendorong kemunculan ilmu-ilmu sosial lokal. Perlu gerakan secara menyeluruh termasuk juga kebijakan dari pemerintah yang mendorong terus lahirnya teori-teori yang berorientasi pada arah lokal. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan mendorong diskusi ilmu sosial lokal dalam arah akademik baik keterampilan inti yang diperlukan untuk melakukan tugas apa pun mulai dari yang paling sederhana sampai paling rumit. di perguruan tinggi dengan mengajak mahasiswa berdiskusi, meneliti kajian lokal untuk melahirkan solusi bagi realitas sosial masyarakat.


Komentar
Posting Komentar
HANYA MENERIMA KOMENTAR POSITIF & MEMBANGUN. TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG.