TEORI SOSIAL KRITIS (Kritik, Penerapan, dan Implikasinya Pada Perkembangan Ilmu Psikologi)

TEORI SOSIAL KRITIS 

(Kritik, Penerapan, dan Implikasinya Pada Perkembangan Ilmu Psikologi)


Sumber Gambar : www.cintabuku.id

Teori Kritis pada hakikatnya ingin menjadi Aufklarung atau pencerahan. Aufklarung itu berarti mau membuat cerah, mau menyingkap segala tabir yang menutup kenyataan yang tak manusiawi terhadap kesadaran kita. Teori Kritis dalam hubungan ini bicara tentang ketersilauan atau semacam selubung yang menyeluruh yang membutakan kita terhadap kenyataan yang sebenarnya, yang perlu disobek. Dalam masyarakat industri maju, kontradiksi-kontradiksi, frustasi-frustasi, penindasan-penindasan tidak lagi tampak. Semua segi hidup masyarakat ”berkongkalikong” menimbulkan kesan bahwa semuanya baik adanya, semua kebutuhan dapat dipuaskan, semuanya efisien, produktif, lancar, dan bermanfaat. Kesan semu itu harus dibuka (Franz Magnis-Suseno, 1992).

Oleh karenanya, teori-teori sosial kritis dengan tegas mengkritik aliran positivisme. Tokoh-tokoh teori kritis beranggapan bahwa pengetahuan bukan semata-mata refleksi atas dunia statis “di luar sana”. Namun pengetahuan merupakan konstruksi aktif oleh ilmuwan dan teori yang membuat asumsi tertentu tentang dunia yang mereka pelajari sehingga tidak sepenuhnya bebas nilai. Lebih jauh lagi (Agger, 2003; 8) dijelaskan bahwa teori sosial kritis berlawanan dengan pandangan positivis yang menyatakan bahwa sains harus menjelaskan hukum alam masyarakat. Sebaliknya, teori sosial kritis percaya bahwa masyarakat ditandai oleh historisitas (terus-menerus mengalami perubahan).

Kritik teori sosial kritis atas positivisme merupakan karakteristik sentral seluruh pemikiran bebebrapa aliran atau mazhab. Kecenderungan positivis dalam ilmu sosial sejak zaman Pencerahan telah memprovokasi teori sosial kritis. Pernyataan Comte bahwa sosiologi (neo-logisme-nya) harus mencoba menjadi “fisika sosial”, yaitu dengan menjabarkan bagaimana hukum sosial yang seolah-olah alamiah itu membekukan masa kini. Wacana tanding yang muncul kemudian adalah para ilmuwan sosial kritis mencoba menggambarkan pola-pola historis semacam ini sebagai kapitalisme, rasisme, seksisme, dan dominasi alam.

Marx juga mencoba mencairkan representasi sifat sosial itu dengan istilah kritik ideologi. Marx telah mencakup perpaduan pandangan sastra dengan teori budaya, termasuk di dalamnya baik posmodernisme maupun feminisme, yang memungkinkan kritik ideologi asli Marx diperluas ke dalam analisis kritis atas seluruh cakupan diskursus ideologis mulai dari media massa hingga ke pendidikan dan bahkan sampai ke arsitektur.

Dari masa ke masa ilmuwan yang melawan proyek positivisme yang menganut sejumlah tesis teori sosial kritis, khususnya karena pengaruh Mazhab Frankfurt, posmodernisme, kajian feminisme, dan cultural studies, semakin bertambah. Para tokoh interaksionisme simbolik (symbolic interactionism) seperti Norman Denzin (1991) juga mulai mensintesiskan tema pendekatan yang saling berlawanan ke dalam versi teori sosial kritis. Ledakan teori yang terus-menerus meliputi seluruh ilmu sosial dan humaniora menggabungkan kritik positivisme dan tema teoretis kritis dalam analisis sosial dan budaya. Lebih lanjut (Agger, 2003) mengungkapkan bahwa ledakan tersebut menjadi proyek interdispliner yang berlawanan bukan hanya dengan positivisme dan neokonservatisme, namun juga telah merombak model pembagian kerja akademis yang tersusun rapi berdasarkan bidang keilmuan menurut model Jerman di abad ke-19.

Inti dari teori kritis terletak pada upaya pembebasan (pencerahan). Ilmuwan tidak selayaknya mengabaikan masyarakat demi mengejar obyektivitas ilmu. Ilmuwan haruslah menyadari posisi dirinya sebagai aktor perubahan sosial. Karena itu, teori kritis menolak tegas positivisme dan ilmuwan sosial wajib mengkritisi masyarakat, serta mengajak masyarakat untuk kritis. Sehingga, teori kritis bersifat Emansipatoris. Emansipasi mutlak diperlukan, untuk membebaskan masyarakat dari struktur yang menindas. "Kesadaran palsu" senantiasa ada dalam masyarakat, dan itu harus diungkap dan diperangi. Selain itu, ciri lain dari studi kritis adalah interdisipliner. Ben Agger menyebutkan ciri-ciri teori kritik sebagai berikut:

1. Teori kritis berlawanan dengan positivisme. Pengetahuan bukanlah refleksi atas dunia statis "di luar sana", naimun konstruksi aktif oleh ilmuwan dan teori yang membuat asumsi tertentu tentang dunia yang mereka pelajari sehingga tidak sepenuhnya bebas nilai. Selain itu, jika positivis mengharuskan untuk menjelaskan hukum alam, maka kritis percaya bahwa masyarakat akan terus mengalami perubahan.

2. Teori sosial kritis membedakan masa lalu dan masa kini, yang secara umum ditandai oleh dominasi, eksploitasi, dan penindasan. Oleh karena itu, ilmuwan kritis harus berpartisipasi untuk mendorong perubahan.

3. Teori kritis berasumsi bahwa dominasi bersifat struktural. Tugas teori sosial kritis adalah mengungkap struktur itu, guna membantu masyarakat dalam memahami akar global dan rasional penindasan yang mereka alami. 

4. Pada level struktur itu, teori sosial kritis yakin bahwa struktur didominasi oleh kesadaran palsu manusia dijelaskan dalam, Ideologi (Marx), Reifikasi (Lukacs), Hegemoni (Gramsci), Pemikiran satu dimensi (Marcuse), dan Metafisika keberadaan (Derrida).

5. Teori sosial kritis berkeyakinan bahwa perubahan dimulai dari rumah, pada kehidupan sehari-hari manusia, misalnya; seksualitas, peran keluarga, dan tempat kerja. Disini, teori sosial kritis menghindari determinisme dan mendukung voluntarisme.

6. Mengikuti pemikiran Marx, teori sosial kritis menggambarkan hubungan antara struktur manusia secara dialektis.

7. Teori sosial kritis menolak asumsi bahwa kemajuan adalah ujung jalan panjang yang dapat dicapai dengan mengorbankan kebebasan dan hidup manusia. Di sisi lain, kritis juga menolak pragmatisme revolusioner.


Humanisme: Antara Positivisme dan Kritis

Menurut Agger, teori interpretatif lebih dekat kepada teori positif atau kritis, tergantung pada bidang apa orang memberikan tekanan (Agger, 2003: 62). Teoritisi interaksionisme simbolis dari Mazhab Lowa memberikan konsepsi sosiologi interpretatif sebagai struktur berharga dari survai kuantitatif. Bahkan, teori interpretatif dapat memberi kontribusi bagi pemahaman atas suatu keadaan yang memperlihatkan kondisi keteraturan sosial jika dilakukan secara terarah. Namun konsepsi ini ditentang keras oleh para fenomenolog, etnometodolog, dan konstruksionis sosial, yang menyatakan sosiologi interpretatif sebagai counter atas penelitian survai. Penelitian survai gagal memahami makna yang dijalin masyarakat dalam kehidupan sehari hari. Selain itu, penelitian survai sebagai turunan dari positivis lebih sebagai ilmu sosial yang bermazhab ilmu fisika prediktif, sehingga hal itu melanggar prinsip inti Neo-Kantianisme.

Jauh berbeda dengan Mazhab Lowa, Denzin, dan Patricia Clough berpandangan bahwa teori interpretatif telah melebur bersama cultural studies (kajian budaya) dan teori feminis. Menurutnya, teori interpretatif adalah cabang dari teori kritis. Clough juga Smith (1987) melacak keterkaitan antara kehidupan sehari-hari dan struktur sosial politik. Hasilnya, kehidupan sehari-hari (termasuk kehidupan dalam rumah tangga) tak bisa dilepaskan dari struktur sosial politik yang menaunginya.

Menurut Agger, semakin teoritis teori interpretatif maka semakin kritis (politis) kecenderungannya. Masih menurut Ben Agger, persamaan fundamental antara humanisme dengan kritis terletak pada upaya penentangannya pada positivisme eksistensi hukum sosial. Sementara perbedaan fundamentalnya terletak dalam menyikapi "kesadaran palsu". Interpretatif berpandangan bahwa sangat arogan bagi analisis sosial untuk mengandaikan bahwa masyarakat memiliki "kesadaran palsu" atau "sejati". Sedang kritik secara tegas menjelaskan masyarakat memiliki "kesadaran palsu" yang mesti dilawan dan dihancurkan.

Epistemologi yang berbeda menjadikan setiap aliran memiliki metodologi yang berbeda. Secara kasar, positivis menggunakan teknik-teknik kuantitatif, interpretatif dengan kualitatif dan kritis dengan kualitatif-emansipatorik. Dalam metodologi, ilmu sosial positivisme menggunakan metode empiris-analitis, menggunakan logika deduksi, teknik teknik penelitian survai, statistika, dan berbagai teknis studi kuantitatif. Humanisme ilmu sosial menggunakan metode historis-hermeneutis, mencakup logika induktif, dan metode penelitian kualitatif. Ilmu sosial kritis mencakup pendekatan emansipatorik, penelitian partisipatorik dan metode kualitatif.

Walaupun begitu, secara spesifik masing-masing sosiolog memiliki penekanan yang berbeda-beda walau masuk dalam satu aliran. Terlebih dalam humanisme dan kritik. Walaupun sama-sama menekuni makna, Garfinkel menggunakan etnometodologi yang memiliki perbedaan dengan fenomenologi Schutz. Berger, yang membidik makna dalam skala lebih luas, menggunakan studi sejarah sebagai bagian dari metodologinya. Socrates, Aristoteles, Chu Hsi, Shankara, Wittgenstein, dan Heidegger dapat berkembang secara intelektual - dalam jaringan-jaringan dan menjelaskan proses emosional dan simbolis yang membentuk pemikiran, akhirnya membawa sejarah keberhasilan ide-ide yang sukses.


IMPLIKASI DAN APLIKASI TEORI SOSIAL KRITIS DALAM PSIKOLOGI

Gagasan kritis dan kecenderungan interdisipliner dalam psikologi bermula dari diskusi psikologi sosial. Beberapa pakar psikologi sosial (Stephan & Stephan, 1985) yang meminati filsafat dan sosiologi mulai memperkenalkan wacana tentang “dua arah psikologi” (two social psychologies). Wacana dua aliran tersebut dikenal dengan istilah Sociological Social Psychology (SSP) dan Psychological Social Psychology (PSP). Definisi sosiologis dari psikologi sosial adalah psikologi sosial memiliki concern pada (1) pengalaman sosial yang berakar pada partisipasi individual dalam kelompok; (2) interaksi dengan orang lain; (3) dampak lingkungan kultural terhadap pengalaman sosial dan interaksi dengan orang lain; dan (4) munculnya struktur-struktur sosial dari interaksi tersebut.

Teoritisi SSP dan PSP merasa bahwa individu dan lingkungan sosial merupakan fokus kajian yang harus dieskplorasi secara integral. Aplikasi paradigma tersebut dalam riset-riset psikologi juga dapat dilihat pada variasi metodologi yang digunakan. Dalam SSP selain pendekatan-pendekatan kuantitatif-positivistik; kuestioner, survey, tes psikologis, SSP juga mulai mendekati metode kualitatif sebagai cara baru dalam membongkar struktur individu dan lingkungan sosialnya. Seperti, partisipasi dalam aktivitas kelompok, wawancara mendalam, dan diskusi terfokus, unstructured interview dan participant observation (Stephan & Stephan, 1985).

Kaitan erat antara teori kritis, posmodernisme, dan teori feminis dengan psikologi juga tampak pada similaritas fokus kajian yang menawarkan perspektif baru mengenai diri pribadi dan hubungan interpersonal. (Wexler, 1983). Wexler juga menjadi salah satu tokoh kunci yang sukses mencangkokkan teori kritis dalam psikologi. Ia mencetuskan istilah psikologi sosial kritis (Critical Social Psychology) dalam khasanah psikologi modern. Gagasan yang dikembangkannya menerapkan teori Adorno pada psikologi sosial yang menolak positivisme dan justru berusaha memperbesar ruang sosial bagi subjektivitas otonom.

Pemahaman mendasar tentang psikologi kritis merupakan problem serius yang masih menjadi bahan perdebatan panjang. Definisi kritis dipahami sebagai sikap kritis psikologi terhadap dirinya sendiri. Terdapat banyak pertanyaan kritis psikologi tentang dirinya sendiri; bagaimana asumsi-asumsi yang digunakan selama ini, praktik-praktiknya, serta pengaruh luasnya dalam ilmu pengetahuan dan masyarakat luas. Sikap kritis psikologi terhadap dirinya sendiri selalu dimulai dari resistensi terhadap postulat positivisme tentang lingkungan sosial. Sebagaimana kritik ilmu sosial kritis atas epistemologi sebelumnya, teori-teori, prosedur, dan teknik yang berkembang dalam psikologi juga tumbuh dan berkembang dalam konteks sosial tertentu.

Psikologi lahir dari rahim modernitas (Rogers et.al., 1995). Istilah modernisme merupakan istilah permanen yang menggambarkan suatu Zeitgeist (the spirit of an age) yang mulai muncul sekitar tahun 1770-an. Istilah tersebut juga secara khusus menunjuk pada suatu era pasca-Pencerahan (post-Enlighment project) yang berkaitan dengan struktur ekonomi politik masyarakat saat itu. Tujuan utama dari proyek modernisme mengubah irrasionalitas menjadi rasional dan menguji fakta empiris sebagai pengetahuan sejati. Oleh karena itu ilmu pengetahuan tentang manusia (human science) pada umumnya merupakan salah satu produk zaman modern (the modern age).

Kaitannya dengan kritik metodologi, psikologi sosial kritis menentang aplikasi eksperimentasi yang terlalu berlebihan dalam aplikasi riset-riset psikologi. Psikologi sosial memberikan beberapa catatan kritis terhadap penggunaan eksperimentasi yang melampaui batas sebagai berikut (Hepburn, 2003):

a. Eksperimentasi hanya melibatkan model mekanistik tentang diri. Klaim eksperimen sangat meniscayakan model analisis kausalitas (sebab-akibat) daripada kemungkinan-kemungkinan untuk keluar dari kerangka kausal tersebut. b. Eksperimentasi merupakan metode yang sangat artifisial. Kritik kedua menjelaskan bahwa ekperimentasi sulit untuk diekstrapolasikan dengan situasi nyata yang kompleks. Sesempurna apapun teori yang muncul dari eksperimentasi, penjelasan teoretis tetap tergantung pada pemahaman tentang konteks dan bagaimana konteks-konteks tersebut diorganisasi.

 

Kritik utama terhadap psikologi juga dapat dijumpai pada aplikasi tes psikologis dan penilaian psikometrik terhadap trait atau kepribadian individu. Bagaimanapun juga, selama awal 1900-an (McMahon & Patton, 2002) pemanfaatan teknologi statistik dan tes psikologis dalam psikologi individual menjadi semakin dominan. Penilaian statistik diterapkan pada evaluasi kemampuan individual, minat-minat, ciri kepribadian, kaitannya dengan seleksi pemilihan karir dan penyesuian dalam pekerjaan. Harapannya, pemanfaatan tes dapat membantu klien mencari dan menginterpretasikan informasi yang relevan dengan pengambilan keputusan karir.

Salah satu kritik tajam dari kalangan teori sosial kritis juga difokuskan pada aplikasi statistik yang telah menjadi alat utama dalam penelitian sosial, termasuk psikologi. Sumarno (Brannen, et. al 2002, vii) menjelaskan bahwa perkembangan ilmu sosial dan humaniora semula dan pada dasarnya bersifat kualitatif. Misalnya, teori stratifikasi sosial, kekuasaan, dan kewenangan, sistem nilai dan norma sosial dalam sosiologi berupa deskripsi dan eksplanasi kualitatif. Kajian tentang sikap dan perilaku juga bersikap kualitatif. Kajian Geertz tentang masyarakat Jawa merupakan sebuah contoh monumental dalam perkembangan ilmu sosial.

Dalam perkembangannya kemudian ada upaya menerapkan statistik untuk membantu mendeskripsikan secara lebih visual dan melakukan generalisasi yang diketahui besarnya kesesatan. Semula sangat menarik bagi kajian ilmu sosial yang dapat menerapkan teknik statistik dari yang paling sederhana sekedar presentase sampai dengan yang rumit sekali; analisis faktor. Seorang ilmuwan sosial pernah mengatakan bahwa menjelaskan dengan corat-coret angka bukan lagi monopoli matematik dan ilmu alamiah. Studi tentang mobilitas sosial dengan bantuan matriks sederhana dapat menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran pekerjaan antargenerasi, banyak anak petani menjadi pegawai dan jarang terjadi anak pegawai menjadi petani (Brannen, et. al 2002, vii).

Menurut Sumarno (Brannen, et. al 2002, vii) penerapan statistik dalam kajian sosial humaniora mengalami perkembangan sangat pesat pada waktu teknologi komputer menghasilkan perangkat lunak untuk analisis statistik, yang makin mudah terjangkau oleh peneliti muda. Ternyata kemudahan tersebut dijangkiti kemungkinan terjadinya dampak negatif berupa pemakaian statistik yang kurang pada tempatnya dan terlena dengan keasyikan statistik. Kemampuan logika material apabila tidak diwaspadai dan dipupuk dikhawatirkan mengalami pemudaran. Kritik tajam sering dilontarkan terhadap penelitian pendidikan dan psikologi yang terlalu metodologis, artinya kecanggihan metode penelitiannya tidak seimbang dengan ketajaman kajian konseptual teoritiknya.

Perkembangan wacana teori kritis dalam penelitian psikologi berkembang pesat dalam tradisi psikologi sosial Inggris (British social psychology). Fenomena seperti kognisi dan memori dipelajari langsung dengan cara menganalisis wacana atau diskursus yang relevan dengan topik-topik psikologis tertentu. Diskursus yang dianalisis dapat dimulai dari percakapan sehari-hari sampai dengan teks-teks yang eksplisit di media. Bersemainya filosofi kritis tentang wacana dan teks dalam psikologi kemudian dikenal dengan istilah discursive psychology (Flick, 2002; Potter & Edwards, 1999). Aplikasi teori sosial kritis juga telah berkembang pesat dala kajian-kajian psikologi tentang teori representasi sosial. Representasi sosial yang menjadi fokus kajian model-model struktural merupakan model hubungan antara pengetahuan sosial implisit di satu sisi dengan pengetahuan individual dan aksi-aksi yang dilakukan individu di sisi yang lain (Flick, 2002; Potter & Edwards, 1999).

Dalam aplikasi psikologi konseling (McMahon & Patton, 2002), evaluasi kualitatif dideskripsikan sebagai bentuk informal penilaian yang menyediakan metode-metode tertentu kepada konselor untuk membantu klien mengetahui dan memahami dirinya sendiri dengan lebih baik. Metode-metode tersebut bersifat fleksibel, terbuka, holistik, dan non-statistikal. Klaim yang muncul dalam penilaian kualitatif menekankan pada hubungan konseling yang berkualitas daripada memberikan servis. Contohnya, klien menjadi lebih terlibat dalam proses konseling dalam konteks penilaian tentang pengalaman hidup klien; dalam posisi tersebut klien adalah ahli dan penutur asli. Dengan relasi yang demikian, posisi klien telah berubah dari sekedar responden pasif menjadi responden aktif.

Dua metode kritis-kualitatif yang juga lazim diaplikasikan dalam penelitian psikologi dan konseling sosial adalah metode wawancara semi-terstruktur dan diskusi kelompok terfokus (focus group interviews and discussions). Pengembangan kedua model tersebut dilatarbelakangi oleh kritik terhadap model situasi wawancara yang terstandardisasi (Flick, 2002; Krueger, 1988). Skeptisisme tentang situasi wawancara yang terstruktur bersumber pada argumen artifisialitas model tersebut, karena klien yang diwawancarai dipisahkan dari seluruh rangkaian hubungan harian selama wawancara berlangsung. Oleh karena itu, situasi terbaik untuk menjaga relasi sekitar adalah dengan menerapkan teknik dinamika kelompok melalui proses diskusi dan wawancara. Melalui model ini, proses konstruksi realitas sosial menjadi lebih mudah untuk dianalisis. Contoh, kasus-kasus psikologis yang dialami oleh keluarga sangat meniscayakan pendekatan komunitas keluarga sebagai inti dari problem yang muncul di permukaan. Pendekatan partisipatif melalui wawancara dan kelompok terfokus diharapkan mampu memediasi hambatan-hambatan psikologis yang muncul.


By Fika Lumiasari


Sumber Referensi :

Agger, B. (2003). Teori Sosial Kritis: Kritik, Penerapan dan Implikasinya. Kreasi Wacana.

Rahman, F. (2009). Implikasi Teori Sosial Kritis terhadap Perkembangan Riset Psikologi. Paradigma, 4(08).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MINI BOOK KUMPULAN ARTIKEL MATERI MATA KULIAH TEORI SOSIAL DAN TEORI SOSIAL KRITIS

PEMETAAN SEJARAH MUNCULNYA TEORI-TEORI SOSIAL : KLASIK, MODERN, KRITIS, DAN POSTMODERN

MENGULAS SECARA RINGKAS PERKEMBANGAN DAN HUBUNGAN TEORI SOSIAL DI INDONESIA